Ngobrol dengan Diplomat Kementerian Luar Negeri

Ilustrasi: warrington.ufl.edu
Sejak kuliah di jurusan Hubungan Internasional (HI), menjadi diplomat barangkali merupakan prioritas utama cita-cita masa depan. Pada awalnya biasanya seperti itu. Namun setelah memasuki tahun kedua atau ketiga perkuliahan, untuk sebagian orang, cita-cita itu lama-lama berubah arah karena berbagai alasan. Bisa karena orang itu ternyata tidak passion di bidang HI dan perdiplomatan, atau bisa juga karena memang orang tersebut realistis: masuk Kemlu tidak semudah membalikan telapak tangan.


Saat ikut CIFP 2016 di Jakarta pertengahan September lalu, saya kebetulan bertemu dengan seorang diplomat Kemlu, namanya Mas Arya Daru Pangayunan. Mas Daru ini saya temui di booth Kemlu saat sedang berada di antara salah satu sesi CIFP. Beliau merupakan satu di antara jajaran anggota Direktorat Bidang Diplomasi Publik Kemlu.


Mas Daru masuk Kemlu tiga tahun lalu, sejak 2014. Lulusan HI UGM tahun 2009 itu sempat mengikuti seleksi masuk Kemlu pada 2010 dan 2013. Namun, dirinya baru mendapat kesempatan lolos di percobaan ketiga ketika mengikuti seleksi CPNS. Meski baru masuk pada 2014, pengalamannya di luar negeri sudah cukup banyak. Sebelumnya ia sempat menjadi local staff di KBRI Yangon, Myanmar dan magang di KJRI Perth, Australia.

Obrolan yang berlangsung selama hampir sejam dengan Mas Daru setidaknya saya rangkum menjadi tiga bagian (ditambah pula sumber-sumber dari pengalaman saya bertemu diplomat-diplomat lainnya), yaitu:

1. Cara menjadi bagian dari Kementerian Luar Negeri

Mas Daru telah mengikuti tiga kali seleksi masuk menjadi PNS di Kementerian luar negeri dan baru berhasil di percobaan yang ketiga. Hal itu membuktikan bahwa masuk Kemlu sungguh bukan perkara yang mudah. Kemlu membuka seleksi setiap tahunnya dan yang mendaftar jumlahnya bisa sampai 6000-8000 orang. Tebak berapa orang yang diterima masuk Kemlu untuk satu angkatannya? Jumlahnya hanya sekitar 70-80 orang pada tahun Mas Daru masuk (kadang bervariasi tergantung kebutuhan). Tepatnya hanya 73 orang pada angkatan 2014 lalu. Tak jarang Kemlu juga kadang-kadang melakukan moratorium PNS, sehingga dalam setahun bisa saja Kemlu tidak mengadakan seleksi PNS seperti pada tahun 2011.

Seleksi Kemlu diikuti banyak orang dikarenakan jabatan yang ditawarkan prestise: diplomat. Memang jabatan diplomat di mata masyarakat mendapat nilai yang tinggi. Salah satu keuntungan menyandang gelar diplomat adalah gampangnya mencari jodoh. Mengutip Mas Daru ketika saya singgung tentang pernikahan, ia berkata, “Gampang kalau mau dapat jodoh, bilang aja sama dia (calon istri), mau ke luar negeri nggak? Mau jadi istri diplomat nggak?” Selain itu Kemlu juga tidak melakukan diskriminasi jurusan kuliah. Orang-orang Kemlu tidak mesti berasal dari jurusan HI saat kuliah. Hal itu juga berkontribusi besar terhadap banyaknya peserta yang mengikuti seleksi Kemlu.
Nah, masuk ke bagian utama, berikut merupakan tahapan-tahapan seleksi sebelum menjadi bagian dari Kementerian Luar Negeri. Ada enam tahapan seleksi, yaitu:

a. Seleksi administrasi melalui http://e-cpns.kemlu.go.id/
b. Tes Kompetensi Dasar (meliputi tes wawasan kebangsaan, tes intelegensia umum, dan tes kepribadian)
c. Tes Kompetensi Bidang
d. Tes Kemampuan Bahasa Asing
e. Tes Final (tes psikologi tertulis, wawancara psikologi, wawancara substansi)
f. Tes Kesehatan

Jangan tanya saya tentang detail-detail tahapan seleksi di atas, wong saya saja hanya mendengar sekilas dari Mas Daru. Namun kalau Anda ingin tahu detailnya silahkan baca blog Mas Daru. Di sana cukup lengkap ia menggambarkan kronologi dan pengalaman-pengalamannya dalam menjalani seleksi masuk Kemlu. Saya pun yang tidak mengalami langsung bagaimana atmosfer seleksinya, bisa memahami dan merasakan betapa sulit dan panjangnya proses masuk Kemlu dan jadi diplomat.
Ketika sudah diterima menjadi diplomat pun, Anda perlu terlebih dahulu menjalani pendidikan dan pelatihan selama delapan bulan (ini kalau saya tidak salah dengar). Barulah setelah menjalani diklat tersebut resmilah Anda menjadi bagian dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

2. Setelah masuk bagaimana kerja sehari-hari di Kemlu

Pikiran kita biasanya terlalu liar dalam membayangkan bahwa kerja di Kemlu sangatlah elit dan prestisius. Kita berfikir kehidupan di Kemlu sehari-harinya pasti mengenakan jas dan melakukan diplomasi dengan perwakilan negara lain. Memang tidak salah kalau yang dibayangkan itu adalah diplomat Kemlu yang ada di luar negeri dan jabatannya sudah tinggi. Namun perlu diketahui bahwa diplomat junior biasanya ditempatkan dulu di Indonesia selama tiga tahun, barulah setelah itu menunggu penempatan di ‘luar’ sesuai dengan penugasan dari atasan.

Diplomat junior juga biasanya tidak mengurusi perundingan-perundingan tingkat tinggi. Diplomat junior yang ada di Kemlu, kalau ada perwakilan luar negeri yang datang paling tugasnya hanya mengurusi urusan protokoler, seperti mengantarkan delegasi ke podium atau ke luar pintu gerbang. Namanya juga diplomat junior, ya kurang lebih masih menyandang status sebagai prajurit.
Sebenarnya tergantung kita ditempatkan di Direktorat apa nantinya di Kemlu. Kalau ditempatkan di Bidang Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan ya nantinya tentunya akan banyak melakukan kajian dan penelitian tentang hubungan luar negeri.

Kemlu banyak direktoratnya, kalau saya jelaskan cerita dari Mas Daru saja agaknya kurang berimbang karena cerita Mas Daru hanya mewakili bidang penempatannya di Direktorat Diplomasi Publik.

3. Suka duka bekerja di Kemlu

Suka

Sukanya bekerja di Kemlu, menurut salah satu diplomat muda lainnya Teh Hasna (seangkatan dengan Mas Daru) yang satu waktu berkunjung ke HI Unpad, pekerjaannya seru apabila berada di bidang yang disukai. Misalnya Teh Hasna saat itu mengurusi bidang hubungan bilateral Indonesia-China, pekerjaan dia adalah membuat kajian penelitian tentang hubungan dua negara. Setiap output yang dikeluarkan oleh dirinya lantas nantinya akan menjadi rekomendasi hingga basis kebijakan luar negeri RI kepada China.

Sukanya lagi tentunya kalau misalnya sudah melalui masa “magang” di Indonesia selama 3 tahun pertama dan mulai melakukan penempatan berdinas di luar negeri. Bagi Anda yang menyukai negara tempat Anda ditempatkan, beruntunglah Anda karena bisa pergi ke negara tersebut tanpa menggunakan biaya pribadi dan membawa anak-istri ke sana.

Duka

Pekerjaan sebagai diplomat itu tingkat kepangkatannya mirip militer, semakin muda semakin rendah pangkatnya dan semakin lama Anda menekuni bidang pekerjaan tersebut –dan menunjukkan prestasi baik tentunya- maka semakin tinggi pangkatnya. Pelajaran ini saya dapatkan dari Dubes Indonesia untuk ASEAN Rahmat Pramono yang waktu itu juga sempat berkunjung ke HI Unpad untuk berbagi cerita.  Namun setelah belajar dari cerita Mas Daru tadi, pada awal masuk Kemlu ya siap-siap saja untuk mengabdi dulu menjadi prajurit. Idealisme tentang usul-usul kebijakan –untuk perdamaian dunia misalnya- kepada atasan juga perlu pikir-pikir lagi karena ketika mengajukan ide pasti akan ditanya “Siapa kamu? Pangkat kamu apa?” <- Mas Daru sih ceritanya begini.

Hidup di luar negeri juga tidak melulu enak. Karena pada dasarnya di sana kita bukan liburan, bukan jalan-jalan, melainkan BEKERJA. Catat baik-baik itu, BEKERJA. Sialnya lagi –ya sebenarnya sudah kewajiban sih- kalau kita ditempatkan di negara yang banyak masalah, misalnya di negara yang sering memiliki urusan dengan TKI (negara mana tuh?), atau negara konflik seperti Suriah, Lebanon dan semacamnya. Diplomat bahkan bisa tidak –lebih tepatnya kurang- tidur selama 3 hari untuk mengurusi satu orang TKI yang akan dihukum mati misalnya. Eh sudah ribet bekerja kadang diplomat mengalami homesick (kangen rumah) lagi, tentu hal tersebut akan semakin merepotkan.

Lalu jangan pula Anda mengira ditempatkan di negara maju seperti Eropa atau Amerika hidupnya bakalan enak. Teman saya di HI mendapatkan cerita dari seorang diplomat yang ditempatkan di negara maju, menurut diplomat tersebut hidup di negara maju memerlukan ongkos hidup yang tinggi sehingga agak sulit juga menabung. Logikanya kita hidup dengan standar biaya hidup negara maju tapi gaji kita dari APBN sesuai dengan standar Indonesia, tentu saja hal tersebut kadang tidak imbang porsinya.

Selain itu, pikir-pikir lagi apabila diplomat sudah memiliki keluarga. Sebaiknya salah satu dari suami/istri memang benar-benar dapat mendampingi pasangannya untuk fokus bekerja sebagai diplomat di luar negeri. Karena kalau tidak begitu agak kesulitan mengurus keluarga jika keduanya sama-sama bekerja.

Semoga bermanfaat!

Terima kasih kepada pihak-pihak yang berkontribusi pada tulisan ini:
- Mas Arya Daru Pangayunan
- Teh Hasna
- Pak Dubes Rahmat Pramono
- Satria Mahesya M

5 comments:

  1. Kak, saya suka isi postingan kakak yang enak dibaca dan mudah dimengerti. Saya sudah baca disini dari setahun lalu, dan alhamdulillah saya berhasil masuk jurusan HI. Ini Blog terbaik lah untuk lebih mengetahui tentang Hubungan Internasional. Kalau boleh request, posting lagi pengalaman2 di semester akhir HI ini setelah kakak Wisuda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, terima kasih sudah berkunjung. Usulannya menarik, nanti saya coba ingat ingat lagi ya pengalaman saya dari tahun ketiga hingga bekerja.

      Delete
  2. Waaahh terimaksih infonya, makin tertarik buat nyoba kerja di kemenlu :)

    ReplyDelete
  3. nice blog bro, kebetulan sekarang gue menempa karir diplomat dari melamar local staf dulu, kebetulan ane baru lulus kuliah, mau nanjak ke local staff abis itu insya allah cpns diplomat 2022 hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini gue tahu lowongannya nih, sukses ya bro...

      Delete

Powered by Blogger.