Menulis (Lagi)

Setelah ditinggal satu bulan tanpa ada pos baru, blog ini sudah seperti rumah tak berpenghuni. Komentar-komentar dari pembaca sempat terabaikan. Namun, herannya, saya yang mengira blog ini tidak akan ada yang membaca pun salah. Ternyata masih ada orang-orang yang tersesat mengunjungi blog ini meskipun penulisnya sebenarnya bloon tidak terlalu peduli dengan tulisannya sendiri.

Saya mau curhat:

Sudah hampir setengah tahun tulisan-tulisan yang saya kirimkan ke berbagai media -baik daring maupun cetak- mengalami penolakan. Beberapa di antaranya bahkan diabaikan <- yang ini yang paling pedih sih. Kali itu saya merasa tulisan saya sudah kehilangan pengaruhnya. Otak yang ada di dalam kepala ini sepertinya tidak dapat lagi mengeluarkan ide-ide cemerlang yang biasanya berbuah opini gemilang.

Tulisan yang saya kirimkan ke Kompas untuk ketiga kalinya (atau keempat ya? lupa) pun masih ditolak dengan alasan yang sama: tidak mendapatkan tempat. Akhirnya saya mengambil kesimpulan, bahwa sebenarnya opini Kompas memang bukanlah ruang untuk mahasiswa kurang pinter seperti saya. Di Sindo juga demikian, rubrik Poros Mahasiswa langganan saya pun kini mulai menolak tulisan saya. Kemudian saya juga mencoba untuk beropini tentang Hubungan Internasional di Foreign Affairs ketika mengetahui situs tersebut mengadakan kompetisi menulis analisis 1500 kata untuk mahasiswa. Namun sama seperti sebelumnya, nihil, bahkan hinga kini saya tidak tahu bagaimana nasib tulisan yang saya kirimkan itu, termasuk juga tulisan yang saya kirimkan sebulan lalu ke Jakarta Post.

Akibat dari pengalaman-pengalaman tadi, saya lantas menjadi tidak PeDe lagi menulis. Saya selalu beranggapan tulisan saya pasti akan jelek hasilnya kalau sudah selesai. Adapun kalau diikutkan kompetisi, saya selalu yakin 100%, pasti tidak akan menang. Hal itu mungkin sudah menjadi kutukan bagi saya sejak dulu, bahwa kalau ikut suatu lomba pasti tidak akan pernah menang.

Melihat saya yang seperti ini, beberapa kawan dekat akhirnya memotivasi. Leeja, teman saya di kelas bahkan sampai merekomendasikan saya untuk menulis lagi, kali itu ia mengirimkan sebuah poster semacam call for paper, hanya saja paper yang dikirimkan akan dimuat untuk jurnal. Jurnalnya pun jurnal mahasiswa Fikom saat itu, sepertinya memang tidak terlalu sulit untuk dimasuki. Meski sudah ada sedikit dorongan dan mencoba untuk menulis, sayangnya tulisan tersebut tidak beres hingga tenggat waktu berakhir.

Jangankan menulis proyek tulisan non kuliah, wong nulis tugas untuk kuliah saja akhir-akhir ini saya kesulitan. Entah kenapa seperti ada mind block di otak yang membuat saya sama sekali tidak pede untuk menulis. Sinap-sinap di otak seperti tidak nyambung satu sama lain. Atau jangan-jangan, gara-gara Warta Kema?

Oh tidak-tidak, jangan sangkut pautkan masalah saya dengan lembaga pers kampus mahasiswa Unpad yang tak diakui rektorat yang sedang saya cintai itu. Memang di beberapa sisi ada kesibukan tersendiri yang menyita perhatian di Warta Kema, tapi bukan sebuah alasan bagi saya mengkambinghitamkan WK sebagai penyebab kekacauan pribadi. Malahan setelah bergabung dengan lembaga pers kampus tersebut, seharusnya saya lebih jago dan giat menulis, dong?

Motivasi dan rasa PeDe berada di titik nadir, sedangkan di sisi lain redaktur pers tetangga yang masih sama-sama di Unpad secara rutin menangkringkan tulisannya di media-media kenamaan Indonesia.

Hopeless, Useless, Worthless...


itulah yang terasa.


Hingga pada suatu waktu, Mbak Adia dari Kabid Humas & Marketing WK mendorong saya untuk mengirimkan tulisan saya ke media cetak. Sebelumnya memang sudah sering mengirimkan opini mahasiswa ke Sindo dan juga pernah dimuat beberapa kali di Koran Joglosemar, tapi memulai menulis lagi untuk dikirimkan ke media cetak seperti hal baru kembali bagi saya.

Dan perjalanan itu saya mulai lagi dengan mengirimkan tulisan liputan. Ya benar, liputan. Sejujurnya saya bukan jurnalis, saya adalah mahasiswa FISIP (Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pelet) biasa yang senang menulis opini. Adapun liputan jurnalistik sebenarnya merupakan hal baru bagi saya. Namun, berbekal sering baca koran (dulu) dan sedikit memahami tata bahasa dalam tulisan (walaupun begitu kalau nulis di blog tetap saja acak-acakan), serta akhir-akhir ini pun textbook saya yang tadinya berbau HI pun berubah tema menjadi jurnalistik. Saya termasuk pembelajar yang cepat kalau dekat-dekat dengan buku. Saya pelajari sedikit demi sedikit, dan dengan ilmu yang saya dapatkan, saya mencoba apa yang disarankan Mbak Adia, "(jangan ragu) kirim aja."

Bermodalkan nekat dan juga asumsi "ya udahlah, nulis capek-capek paling gak dimuat" saat menulis, saya pun mengirimkannya ke Pikiran Rakyat. Sebelumnya saya sempat konsul dengan kenalan orang dalam di sana, bertanya kira-kira kalau liputan seperti kuliah umum tentang Donald Trump apakah bisa dimasukkan ke PR. Meski jawabannya "liputan biasanya oleh wartawan (PR), saya juga bingung memberi jalan keluarnya bagaimana," saya tetap benar-benar mengirimkan tulisan tersebut.

Sehari, dua hari tidak saya cek. Sengaja, wong saya mikirnya "udahlah pasti gak dimuat". Meski begitu, ada rasa penasaran di hati pada Kamis (17/11/2016) pagi yang membuat saya terpelatuk untuk mengecek koran PR edisi hari itu. Saya ingat kalau setiap hari Kamis, di PR biasanya muncul rubrik Kampus yang memang khusus menjadi ruang mahasiswa untuk berkarya. Saya yang baru sadar lantas datang ke CISRAL (Perpus Unpad) pagi-pagi sekali. Ketika bertanya ke petugas di ruang "koleksi terkini," saya kecewa, Koran PR edisi hari ini belum datang, dan ternyata tidak datang selama dua hari. Loh kok bisa?

Akhirnya saya keluar dari perpus itu, nangis di pojokan. Ya enggaklah.


Saya lantas pergi ke FISIP mencari kelas kosong untuk mengerjakan editorial WK yang perlu ditulis sebagai posisi media kami atas Pemilihan Raya Mahasiswa Unpad 2016 yang sedang berlangsung. Setelah menemukan kelas yang cocok untuk menulis, saya malah bertemu Alfian dan teringat ternyata saya punya janji dengan dia untuk survei pigura piagam di daerah sekitar Jatinangor.


Berkemas sejenak, saya dan dia beranjak menuju tempat parkir FISIP, tempat sepeda motor Alfian diparkir. Namun sebelum ke sana, dia malah mengajak ke kantin dulu. Di kantin, saya melihat koran PR edisi hari ini yang tergeletak di atas salah satu meja kantin FISIP. Setelah meminta ijin pada yang punya saya pun meminjamnya untuk sekadar melihat apakah ada tulisan saya di sana.

Sungguh tidak dapat dipercaya, pada saat membuka halaman 22, tepat di rubrik kampus tulisan saya bertengger di samping tulisan-tulisan lainnya yang bertopik seputar kampus. Saya yang tidak dapat menyembunyikan kesenangan akhirnya meminta Alfian untuk melihat tulisan saya itu.

Liputan yang dimuat di PR hal. 22
Saya kemudian secara eksklusif memberitahu dan mengucapkan terima kasih kepada Mbak Adia yang telah mengembalikan rasa percaya diri saya untuk menulis lagi di media cetak. Saya juga berikan foto hasil liputan itu ke narasumber Pak Reza yang sebelumnya saya mintai komentar untuk melengkapi tulisan saya.

Alhamdulillah.

Segitu saja curhatnya.

Selamat malam.

No comments

Powered by Blogger.