Rasanya Diapit Tiga Tetangga Kos yang Sudah 'Berpasang-pasangan'

Gambar cuma ilustrasi dan pemanis. Kosan saya tidak sebagus ini.
Saat memulai perantauan di ibu kota, saya memutuskan tinggal di sebuah indekos di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saya tertarik tinggal di sana karena selain harga sewanya murah, lokasinya juga bisa dibilang dekat dengan tempat kerja.

Namun, sebagai orang yang sudah belajar geopolitik, geoekonomi, hingga geokultur di kampus, saya ini terbilang goblok (atau lebih tepatnya apes) dalam menentukan lokasi kamar kos ideal. Lho, kok bisa?

Dari 3 kamar yang tersedia untuk disewa, saya memilih kamar nomor 3 yang terletak di sudut. Pikir saya, kamar itu strategis karena dekat dengan sumber daya komunal, seperti kamar mandi bersama dan dapur umum. Kamar itu juga tak terletak di lantai dua yang harus naik turun tangga.

Beberapa bulan ngekos di kamar nomor 3 ini aman-aman saja. Sampai suatu hari, kamar ini tak lagi menyenangkan. Seorang perempuan yang ngekos di atas kamar saya tiba-tiba menikah. Setelahnya, dia memboyong suaminya pindah ke indekos ini. Lalu tinggal di kamar ber-AC tepat di depan kamar saya.

Tak lama kemudian, kamar di atas bekas tempat tinggal perempuan yang menikah tadi ditempati perempuan lain. Di sebelah perempuan yang baru masuk itu, tinggalah seorang perjaka asal tanah Sunda. Entah bagaimana, beberapa bulan akrab, mereka berdua menjalin kasih.

Saya sudah diapit orang yang berpasang-pasangan dari atas dan depan. Sebelah kiri kamar saya adalah kamar mandi dan dapur umum. Tinggal tetangga laki-laki sebelah kanan kamar yang masih solider menjomlo. Tapi solidaritas itu tak berlangsung lama. Ibu kos bilang, dia sudah punya 'calon'.

Usut punya usut setelah kabar itu mencuat, saya jadi sering mendengar sayup-sayup tetangga sebelah kanan saya itu menelepon malam-malam dengan calon istrinya. Kala saya malam-malam masih scrolling medsos melihat shitposting dan ketawa-ketawa sendiri, tetangga saya ini, entah bicara apa, tapi sepertinya serius sekaligus mesra. Obrolan itu bisa berlangsung berjam-jam lamanya.

Beda lagi dengan kamar atas yang kemesraannya kebanyakan berlangsung di akhir pekan. Kadang sejoli di kamar atas itu belanja ke pasar dan masak bersama untuk merayakan hari libur.

Sambil masak, kedua orang di atas kamar saya ini sambil adu bacot, terutama sang cowok yang tampaknya agak cerewet. "Kalau jadi istri nanti itu harus jago masak," begitulah sepenggal ucapan sang cowok kepada ceweknya, sependek ingatan saya.

Sang penghuni kos yang nahas menjomlo diapit tiga pasang manusia saling mencinta.
Di kamar depan lebih parah lagi. Kamar ini terbukti telah menguji saya dalam banyak hal. Karena keduanya sudah 'sah', saya hampir bisa menyaksikan adegan suami-istri tiap hari. Tolong pembaca jangan ngeres, karena adegan suami-istri kan banyak gayanya, eh, bentuknya. Dari mulai saling merayu, pegang tangan, hingga hoho-hihe (ketawa-ketawa bersama maksudnya).

Ujian paling ringan dari pasutri di depan kamar bentuknya kemesraan biasa yang dilakukan di depan mata saya. Mulai dari berangkat tarawih bersama, boncengan naik motor habis jalan-jalan, sampai pertunjukkan kehebatan sang suami membereskan urusan bapak rumah tangga saat di kosan (memperbaiki AC rusak dll).

Ujian selanjutnya datang lewat komunikasi verbal. Misalnya, saat akhir pekan sang suami melihat saya gludak-gluduk di kosan saja, dia bertanya 'Ndak jalan-jalan, Mas?' Atau pas saya sedang di atas motor sedang bingung mau jalan-jalan ke mana di Sabtu malam, juga jadi sasaran tanya, 'Kencan, Mas?'

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya tidak terlalu saya pikirkan. Namun, kadang-kadang pas ditanya begitu, susah juga mencari jawabannya. Bingung, lalu menjawab sekenanya. Biasanya retorik.

Kedua ujian tersebut memang belum apa-apa. Yang paling berat tentunya datang saat malam tiba.

Kalau saya sedang pulang kerja malam sekitar pukul 23.00 WIB, kadang-kadang saya bisa mendengar dengan jelas suara perempuan teriak-manja 'aaaaahhhh' sambil diiringi gedebuk bunyi kasur satu kali. Biasanya teriakan itu langsung diiringi gelak tawa-manja setelahnya.

Pikiran saya langsung liar ke mana-mana. Sambil menenangkan diri dan menggembok kendaraan yang baru diparkirkan, saya mencoba berpikir positif, "Mungkin sedang bercanda mesra." Kemudian saya mengunci kamar sambil menutup telinga atau tenggelam main game, atau main medsos.

Esoknya, seperti biasa, saya bangun paling siang di antara penghuni lain. Keadaan berlalu seperti semula. Lalu, di waktu-waktu tertentu, saya berpapasan dengan sang suami pasutri yang ngekos depan kamar saya. 

Dia tanya, "Lho, baru bangun, Mas?"

Sambil kucek-kucek mata, dalam hati saya menjawab, "Gue ini semalam enggak bisa tidur gara-gara loe sama istri loe. Asem."

1 comment:

  1. Di Pasar Minggu nya sebelah manaa? Kapan2 ketemuan yaa kalo aku udah pulang ke Jakarta lagi (mungkin Agustus-September)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.