Warta Kema dan Sebuah Perceraian


Katanya, entah kata siapa, tesis harus dibalas dengan tesis, buku harus dibalas dengan buku, dan tulisan mungkin harusnya dibalas dengan tulisan pula. Saya pun heran mengapa akhir-akhir ini malah ada kejadian di mana tesis dibalas dengan lapor polisi dan tulisan buku lantas dibalas dengan cidukan polisi, dimasukkan penjara. Seperti kasus Hab*b Rizi*q dan Bamb*ng Tr* yang terjadi di negeri antah-berantah ini.

Oleh karenanya, untuk memopulerkan budaya balas-balasan yang setimpal dan beradab, saya ingin membalas artikel Selamat Tinggal, Warta Kema! yang ditulis oleh Angga Septiawan Putra dalam blognya selasar-angga.blogspot.co.id dengan tulisan yang saya pos di blog pribadi saya ini.

Jujur, saat membaca tulisan tersebut, ada tiga macam perasaan yang tiba-tiba bergelayut di hati saya: senang, sedih, dan bangga.

Pertama, senang karena tulisan yang hadir di pagi hari –setelah dibagikan oleh Nisa melalui LINE- menghibur dan membuat saya ngakak saat membaca tiap-tiap bagian paragrafnya. Apalagi di saat Angga menggambarkan bagaimana kami melakukan percapakan via telepon yang lamanya hampir dua jam itu:

“Saat itu, kami lebih terlihat seperti sepasang manusia jomblo yang sedang membicarakan hubungan asmara (asmara apa coba yang mau diomongin jomblo) ketimbang rekan kerja yang sedang membincangkan media.”

Di situ saya merasa, benar juga kata dia. Pasalnya, obrolan kami jadi ngelantur ke mana-mana. Niat hati ingin mengobrol sebentar, menanyakan kelanjutannya sebagai redaktur bidang di kelompok pers ini. Akan tetapi, rupa-rupanya obrolan kami sedikit-banyak nyambung.

Suatu ketika, di tengah percakapan sambungan telepon putus. Saya yang belum menghabiskan waktu paket 100 menit telepon itu merasa ada yang salah. Akhirnya saya hubungi lagi Angga dan melanjutkan obrolan kami yang sempat terputus. Ketika saya bicarakan masalah ini, ternyata Angga tahu penyebabnya. Ia berkata, “Biasanya kalau paket sih putus kalau udah sekitar satu jam.”

Ah, benar juga batin saya. Saya jadi ingat ketika masa-masa jahiliyah dulu saat hampir tiap malam menelepon seseorang. Kejadian telepon putus sejenak setelah sekian menit sering kali terjadi. Pas saya tanya kepada Angga bagaimana dia mengetahui fenomena tersebut, dia menjawab, “Iya, aku juga dulu gitu kok. Dulu.” Untungnya kini kami berdua sudah tobat dari telepon-teleponan yang seperti itu.

Kedua, sedih tentunya mesti “bercerai” di organisasi dengan satu orang yang saya mulai akrab dengannya. Lagipula, sulit untuk mencari editor pengganti seperti dirinya yang benar-benar mau bergabung dan peduli dengan pers kampus yang jalannya masih tertatih-tatih ini.

Mencari editor itu seperti mencari jodoh. Kadang kita sudah srek, dianya tidak mau. Kadang dia sudah mau, tapi tidak sesuai dengan kriteria yang kita cari. Yang jelas mencari editor itu sedikit perlu “cocok-cocokan”.

Ketiga, bangga, di mana saya bisa memiliki rekan kerja yang hebat seperti dirinya –yang sering masuk koran dan tulisannya nangkring di mana-mana. Yang terpenting sebenarnya adalah, akhirnya saya merasa bisa mendapatkan pengakuan dari Angga sebagai seorang editor. Mungkin awalnya, sebagai anak non-jurnal saya memang pantas dicurigai kemampuannya untuk membidangi urusan pers-pers-an seperti WK, apalagi di posisi redaktur pelaksana.

Tentang kalimat “Agaton dua belas, saya dua puluh…” merujuk pada kemampuan menulis yang ditulisnya, mau itu posisinya bercanda atau serius, saya tetap mengakui itu. Yang jelas kalimat ini menunjukkan kenyataan dan tak lepas dari sedikit rasa humor Angga yang kadang suka membangga-banggakan dirinya sendiri. Apalagi kalau dirinya sudah dalam tahapan minta dipuji sama Nisa, maka niscaya Nisa dengan ketus menjawab, “Daftar pujianmu udah banyak Ngga, mau dipuji apalagi.”

Sampai detik ini saya pun masih tidak mengerti dengan hubungan sosial kedua orang itu –Angga dan Nisa yang suka menjelek-jelekan di depan, tapi sebenarnya saling peduli satu sama lain. Lihat saja ketika Angga menulis tentang kebiasannya dipukul pakai bantal oleh Nisa, itu sebenarnya merupakan kebiasaan yang mungkin dilakukan Nisa ketika sampai di indekosnya sesaat setelah habis diantarkan oleh Angga kalau pulang kemalaman, kehujanan, atau karena ada pekerjaan tertentu yang harus dilakukan Angga di kosan Nisa. Mana mungkin kan Nisa membawa-bawa bantal ke kelas hanya untuk memukul orang?

Tetapi yang jelas, tuduhan yang dilayangkan seperti ini dasarnya hanya logika. Kalau di bidang jurnalistik, fenomena demikian masih memerlukan verifikasi dari keduanya. Atau paling tidak kita bisa meminta keterangan dari saksi mata, seperti misalnya tetangga kos Nisa.

Sekalian saja saya sampaikan di sini untuk Fadiyah, pemimpin redaksi awal ketika saya masuk di WK, saya mengucapkan terima kasih. Njenengan (baca: kamu, -Jawa) mengajarkan saya banyak hal dari mulai hook, caption foto, dan beberapa pelajaran dasar jurnalistik lainnya.

Saya pribadi memandang, dalam sebuah hubungan sosial kalau kita memulai hubungan tersebut dengan baik-baik, maka mengakhirinya atau menceraikannya harus baik-baik pula. Syukur-syukur ya tidak cerai. Kalau kata hadist kan “Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian.” Meskipun hadist ini konteksnya tidak tepat untuk hubungan pertemanan dan ikatan komunitas, kelompok, atau organisasi, saya kira itu relevan sebagai anjuran agar kita tetap menjaga hubungan baik ke depannya.

Akhir kata, semoga sukses di bidang kalian masing-masing. Saya, Hani, Nisa, dan teman-teman redaksi yang lain ijin melanjutkan perjuangan ini, yang semoga dimudahkan selalu oleh Allah yang tiada Tuhan lain selain-Nya.

Khusus keyakinanmu, Ngga, tentang WK ke depan, saya anggap itu sebagai tantangan dan doa.

Nuhun pisan, atas semuanya.

Catatan: Bagi pihak-pihak yang merasa, karena tulisan ini, dirugikan silakan mengajukan hak jawab kepada pemilik blog ini. Sekian.

No comments

Powered by Blogger.