Liburan dan Rumah

Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih diberi ketabahan mengingat cobaan hidup yang kadang menerpa tak jarang membuat putus asa, terutama saat menghadapi kelas filsafat dan ujian mata kuliah bahasa Arab. Eits, lupakan sejenak tentang kuliah, semester tiga sudah lewat. Kini tinggal menunggu hasil dan tawakal kepada Allah Swt.

                 Source: http://lecbali.com

Libur kuliah telah tiba. Saya sudah terkena kartu merah dari keluarga di rumah sehingga harus segera keluar dari Jatinangor dan menuju ke rumah di Kota Kuningan. Bayangkan saja, sudah dua semester, saya hanya pulang saat waktu liburan tiba saja. Bahkan ketika idhul adha tiba, saya masih tetap stay di Jatinangor dengan alasan menghemat ongkos pulang. Padahal anggaran pulang kalau dihitung-hitung sebenarnya ada. Lagipula jarak Nangor-Kuningan juga relatif dekat.

Hari Sabtu (26/12/2015) saya berangkat naik bus dari Jatinangor. Sampai di Terminal Ancaran Kuningan saya di jemput oleh Mamah tercinta. Di perjalanan ke rumah, kami cerita banyak hal. Ternyata saya mendapat laporan dari mamah bahwa adik saya akhir-akhir ini sedang menggiati stand up comedy. Idolanya adalah Raditya Dika. Saya tidak mengerti mengapa orang seperti dia dijadikan idola. Kata Mamah, adik saya sering menulis-nulis bahan untuk stand up di sekolahnya. Suatu saat bahannya ketinggalan di rumah saat akan dipakai. Akhirnya dia ribut-ribut menelepon Mamah di rumah untuk membacakan outline bahan yang telah dibuatnya. Pernah saya sekali membaca bahan dia dan mendapati bahwa bahannya mencontek semua. Dasar plagiat!

Adik saya ini ini laki-laki dan sekarang sudah menginjak kelas X SMA. Karena atlet olahraga voli, postur tubuhnya lebih tinggi daripada saya sehingga saya kalau jalan harus jinjit-jinjit agar bisa sepadan tingginya dengan dia. Sayangnya karena buang-buang waktu saya tidak melakukan hal tersebut. Beberapa waktu lalu saya ke Cirebon dengan dia. Karena sudah mau menginjak usia dewasa, di perjalanan matanya selalu celingukan ke sana kemari. Dari mulai Mbak-mbak sales di mall sampai Mbak-mbak pom bensin dia bilang cantik. Saya kira saya salah mendidik adik saya tersebut. Tapi selidik punya selidik, saya lihat mbak-mbaknya memang cantik sih, eits.

Ngomong-ngomong soal rumah, Mamah saya sekarang jarang di rumah karena sibuk terhadap pekerjaannya di kantor. Tidak seperti kebanyakan mamah lainnya yang suka belanja ke pasar membeli kebutuhan sehari-hari, Mamah saya lebih suka belanja kayu, semen, batu bata dan sejenisnya. Mamah saya berprofesi sebagai manajer di toko bangunan. Sayangnya karena kesibukannya tersebut, mamah saya jadi jarang masak. Padahal saat saya pulang ke rumah, saya ingin sekali banyak makan masakan Mamah. Di Jatinangor susah sekali mencari makanan sehat, maka dari itu saya ingin perbaikan gizi di rumah, eh ketika sampai di rumah, Mamah malah jarang masak. Kemudian saya iseng-iseng nyeletuk protes ke Mamah, “Sudahlah Mah, saya cari istri saja, supaya saya bisa dimasakin sama istri.” Mamah tertawa sambil mengiyakan. Besoknya Mamah menyinggung-nyinggung soal mantan, saya menanggapi dengan pura-pura tidak mendengar.

Semenjak saya kehilangan handphone saya setengah tahun lalu, saya jadi jarang menelepon Mamah. Sehingga saya juga jarang tahu kabar tentang Mamah di rumah. Hingga sampai suatu kala saya diminta untuk melihat handphone Mamah yang sedikit error. Ketika saya lihat handphonenya, ternyata handphone tersebut sedang log in facebook yang tertera foto-foto Mamah di sana. Tapi kok nama facebooknya bukan nama Mamah? Saya kemudian bertanya apakah selama ini Mamah bermain facebook dan ternyata dia mengiyakan sambil meringis.

Jadi ceritanya dulu Mamah dan Ayah saya larang untuk bermain facebook agar tidak macam-macam (aslinya sih sedikit ill feel kalau mereka bisa mengamati kehidupan saya di facebook). Eh, ternyata setelah Ayah saya meninggal dan Mamah punya handphone canggih, Mamah diam-diam bermain facebook dengan nama samaran. Katanya untuk mengontak teman-teman lamanya waktu di SMA. Ya sudahlah, toh motif saya memiliki facebook awalnya juga untuk mengontak teman-teman lama yang sulit dihubungi. Tapi apa yang saya herankan adalah saya sampai tidak tahu. Selama ini saya bisa mencari info tentang kepribadian dan identitas orang lain via online (salah satunya lewat media sosial). Saya bisa tahu orang tersebut punya mantan berapa, pacaran dalam jangka waktu berapa lama, hingga informasi keluarga seperti dia punya berapa keluarga, kuliah di mana saja sampai nama bapak dan ibunya, semua bergantung pada publikasi yang orang tersebut posting di internet. Namun saya bahkan tidak bisa melacak facebook Mamah saya sendiri. Wah, Mamah saya memang jago. Mulai sekarang saya harus hati-hati dalam memposting sesuatu, ada intruder di facebook. Belakangan Mamah saya juga suka selfie. O h for God sake, why this is happening to my mother.

Ada atau tidak ada saya di rumah sebenarnya tidak merubah pola kehidupan keluarga saya. Tapi semoga dengan adanya saya di rumah, saya bisa memberikan aura positif. Misalnya belakangan saya ikut membantu menjemuri baju, menyapu dan cuci piring. Ya, saya lebih seperti sedang magang sebagai asisten rumah tangga. Liburan di rumah memang tidak terlalu 'wah', tapi ya kapan lagi saya bisa berkumpul dengan keluarga kalau bukan di rumah. Selamat bergabut ria satu bulan kedepan.

Well, sebenarnya saya dan teman-teman Gamaku (Keluarga Mahasiswa Kuningan) memiliki agenda UGS (Unpad Goes to School) pada liburan ini. UGS ini semacam kegiatan datang ke sekolah-sekolah untuk memberikan motivasi dan wejangan tentang perkuliahan. Saya harap, di UGS ini banyak siswa-siswi yang tercerahkan akan pentingnya kuliah bagi masa depan.

No comments

Powered by Blogger.